Thursday, March 21, 2013

Honda Vario ISS = PCX?




Setelah ditunggu-tunggu akhirnya AHM meluncurkan varian Vario 125 ISS-nya rabu kemarin. Matik yang sudah lebih dulu diluncurkan di Thailand dengan nama Click 125i Idling Stop ini, sontak digadang-gadang oleh sebagian blogger sebagai PCX versi pahe. Tapi benarkah Vario ISS adalah versi pahenya PCX? Sepintas kalau dilihat memang sebagian fitur PCX ada di Vario baru ini. Mulai dari rem-nya yang sudah CBS (walaupun masih model kabel bukan minyak seperti PCX), staternya yang ACG sehingga waktu start sudah kehilangan fitur khasnya yang berbunyi 'bletak', sampai ke Idle Stop System (ISS) yang mematikan mesin apabila idle kurang lebih 3 detik saat motor telah dijalankan. Mesin Vario yang sama-sama mengadopsi desain Enhanced Smart Power (ESP) memang menambah kemiripan karena hampir 80%-nya sama dengan yang dipakai PCX 150.

Tanpa bermaksud mengecewakan pengguna vario rasanya kemiripan Vario dengan PCX berhenti sampai disana. Dari mulai desain body, storage, dashboard, ergonomi, suspensi dan kualitas keseluruhan tentulah beda dengan PCX yang merupakan produk global Honda dan dijual seantero dunia. Jika pemilik Vario ingin mencari kemiripan dengan matik Honda lainnya rasanya lebih tepat kalau Vario dibandingnkan dengan Honda SH. Honda SH yang tersedia versi 125 dan 150 dan ironisnya diluncurkan di Vietnam jauh lebih mirip Vario daripada PCX apabila dibandingkan. Mulai dari desain deknya yang rata, tangki bensin di bawah seat, sampai fitur ISS yang sekarang juga ikut dipakai.



Perbedaannya ada di shock belakang yang stereo dan lingkar ban yang 16. Sementara Vario masih menganut shock belakang mono pinggir dan lingkar ban 14. 

Mestinya kalau mau mencari PCX versi pahe bisa diarahkan ke Honda Airblade yang secara desain lebih punya kemiripan dengan PCX karena sama-sama mempunyai tangki eksternal, dual shock, dan bertulang tengah. Sayang AHM tidak  belum ada rencana memasukan Airblade ke Indonesia.


Wednesday, March 20, 2013

You can't buy happiness but you can buy PCX and that's pretty close




It's been a while (well actually very long time) since I create any post in my blog. I'm very busy flexing my muscle between study for my post-graduate, lecturing, and many things that I need to do. Now I'm back and hopefully can create more post in my blog as it should be.

Thing is I'm quite happy that finally been able to get a new scooter, a PCX 150. I've been eyeing this scooter since it's first appearance back in 2009. But back then PCX only have 125 cc displacement and I just got my new Skywave for a few month.  Now three years later and with 25cc more I can justify the purchase. I don't want to reviewing the PCX 150 too much, there are hundred or thousand pages that already talk about PCX from it's technicality. I want talk about PCX from the user side, why I choose PCX instead other scooter and why I'm happy with it.

First of all I need second personal transportation. Due to the new rules proposed by the governor to impose vehicle traffic limitation based on odd and even license plate number. Since I don't want to purchase another light compact scooter, I may as well choose 'bigger' scooter such as PCX. Other 'big' scooter that was on my consideration include Joyride by SYM and even LX and Liberty by Piaggio.

Secondly this 'bigger' scooter should fun and comfortable enough to ride and have distinct look. PCX surely fall into that category. Thirdly have rather large under seat storage that can accomodate helmet and few other things nicely. Other criteria including the size that even tough big, the scooter should still easily enough fit the heavy traffic and narrow alley without hassle. Also the scooter must have enough power and consume fuel with good economical ratio. All that criteria can be match by PCX and thus make me quite happy.

There are other cons about PCX (of course there's no such thing as perfect scooter) but the cons either can be handled easily through additional accessories (i.e storage, hook, rear shock, tire, etc) or not bother me at all (i.e clock, flat deck, back support, etc). So when my license plate finally arrive I will ride around with my PCX as much as I could and you will hear more about it from me.  

Sunday, September 14, 2008

Akhirnya Pake Speedy

Setelah sekian lama cuma bisa menganjurkan dan ikutan pake speedy gratis di kantor, sekarang saya pun ikutan pake speedy. Alasannya sepele ternyata telpon rumah yang dipake buat browsing tiap bulan tagihan nyaris 500 ribu melulu kadang malah lebih. Ye ini sih sama saja dengan pake speedy. Akhirnya saya pun telpon 147 dan minta di pasangkan speedy yang paket time based saja sebesar 200 ribu + ppn mungkin jadi sekitar 220 atau 230 ribu dan dapat jatah 50 jam. Enaknya adalah selama Agustus - Januari ini ada free dari jam 20.00 -08.00 pagi. Meski aneh aturannya karena harus login minimal jam 20.00 pas dan 08.00 pas harus logout tapi lumayanlah dari pada enggak sama sekali. Sayang sambungan remote di kantor lagi ngadat dan account rapidshare saya habis masa berlakunya. Nanti deh diperpanjang dan remote access di kantor dibenerin jadi bisa download sambil di remote dari rumah wah asyik pasti. Apalagi Starwars unleash sudah menunggu.

Wednesday, March 19, 2008

Bebek Laki: Genre baru motor Indonesia

Tahun 2008 ini sepertinya diawali oleh sejumlah rencana yang berbau spekulasi oleh produsen motor Jepang di Indonesia, yaitu rencana melahirkan motor bebek Laki. Motor Bebek Laki? Apaan tuh...? Sejujurnya sih itu istilah saya saja, melihat fenomena trend di kalangan produsen motor yang mengeluarkan jenis motor nanggung. Tadinya kan jenis motor yang dipasarkan di Indonesia agak jelas yaitu bisa di bagi tiga:

1. Motor Laki/Sports: Jenis mesin tegak, pake kopling, Tangki bensin diluar (tidak di bawah jok) bentuk besar, 1/2 telanjang (bila tanpa cover), dst.


2. Motor Unisex/Bebek: Jenis mesin tidur, non kopling (transmisi rotari), tangki bensin dalam ( di bawah jok), bentuk medium, bercover, dst.

3. Motor Skuter/Matik: Jenis mesin terintegrasi (dengan ban belakang), full matic, tangki bensin dalam, bentuk small, full cover, dst.

----to be continued---

Tuesday, January 15, 2008

Asus Eee, komputer jinjing ideal untuk pengguna Indonesia?

Manusia modern memang tidak pernah lepas dari dukungan teknologi. Terutama bagi mereka yang aktifitas sehari-harinya harus menggunakan perangkat komputer. Kini bukan lagi sebuah pemandangan yang asing jika di berbagai sudut Indonesia, banyak ditemukan orang-orang yang nyaris tidak bisa dipisahkan dari komputernya. Mulai dari perkantoran, sekolah, kafe, bahkan di tempat yang sebelumnya tidak terbayangkan akan ada seseorang yang sedang menggunakan komputer, misalnya seperti di toilet.

Maklum dengan alasan mobilitas dan efesiensi waktu seringkali seseorang terpaksa harus berkomputer dimana saja. Apalagi dengan adanya jaringan komunikasi yang memungkinkan orang terus menerus terhubungkan dengan internet. Tentunya dengan kelekatan terhadap komputer yang demikian tinggi dibutuhkan perangkat komputer mobile yang portable, durable, comfortable, namun memiliki harga yang sesuai dan kemudahan pakai (ease of use) yang tinggi. Sekilas kebutuhan seperti ini tentu dengan mudah dipenuhi oleh perangkat komputer jinjing seperti laptop, sehingga tak heran tingkat penjualannya dari hari ke hari semakin naik dan bukan tidak mungkin sudah melewati penjualan komputer berjenis desktop.

Sayangnya untuk model pengguna komputer mobile seperti saya komputer jenis laptop menjadi kurang sesuai. Buat saya pengalaman menggunakan komputer jinjing yang selama ini saya alami menjadi pengalaman menggunakan sesuatu yang membebani, rentan, kurang nyaman, harga yang cukup mahal, dan kesulitan penggunaan yang cukup tinggi. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah karena lingkup pekerjaan saya yang sering berpindah tempat.

Sebagai pekerja kelas menengah dengan profesi desainer sekaligus pengajar, kebutuhan utama sebuah perangkat komputer bagi saya adalah kemampuannya untuk menjadi alat bantu presentasi. Komputer mobile yang saya miliki harus memiliki kapabilitas untuk menampilkan tayangan pada layar yang cukup nyaman dan sekaligus juga bisa ditampilkan ke layar dengan bantuan projector. Maka syarat bahwa komputer tersebut memiliki paling tidak satu VGA out port adalah mutlak. Software yang ada pada komputer tentu saja harus bisa menampilkan format presentasi populer tanpa masalah konversi yang berarti.

Syarat kedua adalah berat dan ukurannya cukup portabel sehingga ketika dimasukkan ke dalam tas tidak membebani lebih dari berat buku-buku yang biasa saya bawa. Hal ini berkaitan dengan moda transportasi yang saya gunakan ke tempat kerja yaitu sepeda motor dan transportasi publik seperti bus dan kereta. Ukuran dan berat yang berlebihan dari perangkat komputer yang saya bawa tentu akan sangat melelahkan ketika beraktifitas seharian dari pagi sampai sore.

Portabilitas tanpa durabilitas yang cukup adalah sesuatu yang aneh bagi perangkat mobile. Bagaimana rasanya membawa-bawa sebuah perangkat dalam perjalanan yang didalamnya memiliki resiko tinggi kerusakan data akibat guncangan seperti hard disk. Padahal harta paling berharga dalam semua perangkat mobile adalah data. Tentu akan sangat membuat frustrasi ketika prangkat yang hendak kita gunakan tiba-tiba tidak berfungsi lantaran penyimpan datanya tidak bisa diakses akibat rusak di perjalanan. Untuk itu kehadiran penyimpan data jenis solid state disk yang tahan guncangan mutlak dibutuhkan juga.

Berikutnya adalah faktor kenyamanan, meski saya telah terbiasa dengan pengetikan SMS melalui keypad handphone dan pernah mencoba penulisan dengan mode stylus di PDA, untuk pengetikkan dokumen belum ada yang dapat menggantikan fungsi keyboard. Pun juga fungsi display, saya selalu membutuhkan display yang cukup nyaman sehingga hasil pekerjaan masih bisa di baca langsung di layar dalam ukuran relatif normal tanpa terlalu banyak melakukan scroll.

Sedang faktor terakhir adalah nilai yang harus dibayar untuk mendapatkannya, boleh saja sebuah perangkat mobile mematok harga yang cukup tinggi karena alasan proses manufaktur yang mungkin tidak murah. Tetapi jika perangkat tersebut diarahkan sebagai produk masal yang maunya menggantikan fungsi perangkat statis maka akan sangat aneh bila harga yang harus dibayar masuk kedalam kategori premium. Buat saya yang masih bergaji dalam bentuk rupiah tentu kemampuan ekonominya masih jauh dari kategori premium, sehingga hanya sanggup membeli perangkat mobile yang harganya masih wajar.

Dengan persyaratan yang cukup berat seperti itu saya sendiri ragu apakah ada perangkat mobile yang dapat memenuhi kebutuhan saya? Lucunya peribahasa "Hati-hati dengan apa yang anda inginkan" seolah benar adanya. Di penghujung tahun 2007 tiba-tiba muncul kabar bahwa Asus akan meluncurkan produk komputer portabel baru. Uniknya bila perangkat mobile identik dengan harga premium produk yang dilabeli Asus Eee ini justru memilih harga ekonomis. Tentu seperti layaknya pengguna komputer yang sudah cukup punya pengalaman, saya bersikap skeptis. Jangan-jangan dibalik harganya yang ekonomis tersimpan sejumlah masalah atau paling tidak spesifikasinya tidak akan cukup gegas?

Ternyata dari spesifikasi yang beredar di Internet kekuatan hardware Asus Eee cukup mumpuni. Di dalam Asus EeePC 4G tertanam prosesor Intel Celeron 900 Mhz, 512MB RAM, 7" layar display, 4GB Solid State Disk Storage, Ethernet & WLAN, Kemampuan multimedia, dan sistem operasi customize. Rasanya dengan kisaran harga dibawah 4 juta rupiah (pada saat artikel ini dibuat) spesifikasinya masih cukup sebanding dengan laptop kelas entry level. Keistimewaannya tentu saja ada di portabilitas dan durabilitas yang melebihi laptop biasa. Benar-benar sebuah impian yang jadi kenyataan buat pengguna komputer mobile seperti saya.

Segera setelahnya saya menjadi tidak sabar untuk bisa mencoba Asus Eee ini. Kira-kira kapankah akan diluncurkan di Indonesia dan apakah segera tersedia di toko-toko? Bila dana yang saya miliki sudah cukup dan pengalaman pengguna real persisi seperti yang dirasakan para reviewer, pastilah saya tak ragu lagi untuk memilikinya. Sayang dari informasi yang saya dapatkan di Internet baik melalui forum, mailing list, maupun berbagai situs, akibat animo yang tinggi peluncuran Asus Eee masih bersifat terbatas bahkan untuk kebutuhan dalam kuantitas besar dianjurkan untuk melakukan pre-order terlebih dahulu. Jadi impian untuk memiliki
Asus Eee sementara ini masih harus saya simpan dulu.

Jadi apa yang akan saya lakukan bila saya memiliki Asus Eee? Sejumlah kriteria yang saya tuliskan di atas sudah siap menanti sebagai ujian. Jelasnya saya tak akan ragu untuk menggunakannya sebagai pendukung presentasi selama lima hari dalam seminggu. Saya akan membawanya keliling kota dengan sepeda motor dan transportasi publik untuk mencoba ketahanannya menghadapi ganasnya guncangan jalanan di Indonesia. Saya akan mengerjakan semua dokumen yang dibutuhkan mendadak untuk melihat kenyamanannya. Tapi ujian terberat yang akan dilalui tentu mencoba Asus Eee di tempat-tempat yang tidak biasa, berkomputer di toilet? Hmmm....

Thursday, December 27, 2007

Tetangga!!!

Mengapa saya membuat judul blog hari ini dengan judul tetangga !!!, plus tanda seru sampai tiga kali? Karena selama hidup jarang sekali saya punya tetangga yang pengertian. Malah setahu saya mungkin belum pernah. Ketika saya kecil dan besar di sebuah perkampungan agak kumuh di utara Jakarta, tetangga kanan saya seorang pengontrak, pernah di damprat Bapak saya karena menyetel tape lagu dangdut keras-keras. Sebenarnya kita tidak ambil pusing dengan hobinya menyetel lagu dangdut, tapi karena di setel pas kebetulan sedang ada orang bertamu ke rumah karuan saja pembicaraan harus dilakukan dengan setengah teriak untuk mengatasi suara lagu dangdut yang membahana. Akhirnya ketika tamu pulang dengan kesal Bapak saya pergi ke sebelah dan memarahi sang pengontrak yang sontak sejak saat itu tidak lagi menyetel tape keras-keras.

Ketika kami terpaksa pindah (karena banjir yang makin parah) dari perkampungan ke sebuah perumahan, tadinya kami berharap kehidupan bertetangga bakal lebih baik. Maklum mereka yang mampu membeli di perumahan biasanya sudah lumayan terdidik. Awalnya sih demikian untuk beberapa saat, sampai tetangga depan rumah mulai cari masalah dengan parkir mobil sembarangan. Memang setiap rumah sudah dilengkapi carport sendiri-sendiri tetapi tetangga depan rumah, termasuk jenis yang malas parkir dengan rapi di carport. Tadinya kita duga karena mobilitasnya yang tinggi, ternyata tidak mobilnya yang besar dan menutup separuh jalan bisa parkir di depan rumah selama berjam-jam dan baru parkir dengan manis di carport setelah jam 9 malam. Waduh terpaksa setiap mau keluar masuk panggil-panggil tetangga dulu, mending kalau langsung keluar, rumah tetangga yang biasanya ramai giliran diminta pindah mobil mendadak sunyi senyap seolah tanpa penghuni. Suatu hari karena sebalnya setelah didera macet dari kantor, Bapak saya nekat parkir di sebelah mobil tetangga persis. Walhasil jalan di depan rumah jadi riuh karena klakson mobil lain yang mau lewat. Sambil mengamati dari dalam dan setelah 15 menit baru tetangga depan tergopoh-gopoh keluar untuk memindahkan mobil.

Sekarang saya sudah hidup berumah tangga tetapi persoalan tetangga yang jauh dari Tepa Selira di Jabotabek masih saja terjadi, malah kelihatannya makin parah. Kebetulan setahun pertama saya nebeng di rumah mertua di sebuah perumahan yang cukup elit. Seperti biasa awalnya lingkungannya cukup enak, dijaga 24 jam, dekat fasilitas umum, tetangga yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, tapi seiring waktu problem tetangga kembali mendera. Kebetulan rumah mertua letaknya di ujung blok (hampir tusuk sate) sehingga persis di depan rumah terletak jalan penghubung dengan blok lain. Jalan yang harusnya strategis ini ternyata jarang sekali bisa dinikmati karena seluruh tetangga yang tinggal di dekat situ dan memiliki mobil lebih dari satu, selalu menjadikan bahu jalan sebagai car park publik yang nyaman. Satu tetangga bahkan meninggalkan mobilnya demikian lama disitu sehingga merupakan suatu keajaiban apabila kita pernah melihat mobil itu jalan. Jangan bayangkan mobilnya adalah mobil kuno rombengan macam besi tua, mobilnya adalah mobil tahun 2000-an dan masih laik jalan pula. Dengan kondisi satu rumah yang kadang-kadang minimal punya dua mobil, maka bukan kejadian aneh kalau untuk masuk atau keluar dari rumah Mertua kadang sedikit susah. Suatu saat ketika saya bisa pulang agak siang dari kantor, sambil berharap senang karena bisa punya waktu nonton film di bioskop bersama istri . Alangkah terkejutnya saya ketika mau memasuki halaman rumah di luar pintu pagar sudah parkir dengan manisnya sebuah SUV besar lengkap dengan supirnya menghalangi jalan keluar-masuk rumah. Rupanya itu pekerjaan supir antar-jemput murid-murid tetangga yang buka les-lesan di rumah.

Setelah nebeng untuk sementara saya menempati rumah milik keluarga di bilangan Senen. Letaknya yang di gang sebuah perkampungan cukup membawa saya ke nostalgia waktu kecil. Mulai tetangga yang suka teriak-teriak (baik dalam keadaan marah, senang, maupun normal), motor sampai ke odong-odong dan topeng monyet yang bisa berhenti persis di depan pintu pagar rumah. Hingga ke pesta hajatan ala kampung lengkap dengan organ tunggal dan nyawernya. Untuk pertama kalinya saya bisa melihat (benar-benar melihat) rambatan suara di udara yang diakibatkan oleh hentakan speaker sewaan tetangga yang ditaruh pas di luar pagar rumah.

Dengan sejarah bertetangga yang lumayan buruk seperti ini, tak heran kalau saya dan istri benar-benar memilih lokasi, lingkungan rumah baru kami ini. Tak tanggung-tanggung kami pindah ke ujung Selatan di Depok sana. Setelah membangun selama hapir setahun, hutang sana-sini dan menguras kocek serta tabungan berdua, rencananya dalam waktu dekat kami mau pindah. Sambil melakukan finishing membereskan kesalahan dan kerusakan yang diakibatkan tukang yang asal-asalan, hari ini saya memasang pompa air. Ditemani rekan kantor yang tenaga dan pengetahuannya kebetulan bisa dimanfaatkan mulailah kami memasang pompa dan pipa tiba-tiba kami dikejutkan oleh dentuman di bagian atas rumah. Kebetulan di atas kamar dan sebagian belakang rumah sengaja sudah kami cor, selain untuk persiapan meningkat juga mencegah bocor. Tiba-tiba dengan santainya muncul dua orang tukang suruhan tetangga sebelah rumah yang menyeret tangga kayu diatas rumah, tanpa ba-bi-bu langsung melakukan pekerjaan menambal atap tetangga melalui tangga yang di dirikan di atas atap rumahku. Akhirnya dengan marah terpaksa deh saya keluarkan kata-kata kasar yang jarang saya keluarkan, itu pun cuma setengah mempan. Terpaksa mulai besok saya berencana menggelar kawat berduri mengelilingi atap rumah. Biar saja rumah saya jadi terlihat seperti Fort Knox, yang penting tidak ada lagi tetangga kurang ajar yang injak-injak atap tanpa permisi. Kapan ya punya tetangga yang bisa punya perasaan?

Monday, October 8, 2007

Announcement

Starting from today the amboroslog will be splitted into several log depend on the topics.
So the topic will be cross post between amboroslog and the special topic log. Also the old post will also will be post again in special topic log.

Owner