Showing posts with label Motor. Show all posts
Showing posts with label Motor. Show all posts

Sunday, August 11, 2013

Mau berapa besar ?

Bicara soal kubikasi pada motor yang beredar di Indonesia seperti membicarakan fitur canggih pada smartphone. Semua pengguna maunya spesifikasi setinggi-tingginya tapi ujung-ujungnya akan terbentur dengan realita yang ada. Pada smartphone banyak fitur canggih tidak atau belum bisa dimanfaatkan akibat kualitas jaringan yang belum memadai. Lha punya smartphone berkoneksi LTE tapi sekadar sinyal 3G pun masih kembang kempis. Jangankan bervideo phone ria mau update status di FB saja sering gagal. Hal yang sama berlaku di motor semua maunya punya kubikasi yang besar karena identik dengan tenaga ganas, tapi apa daya jalannya macet bukan kepalang.


Yang penting besar Bro?




Saat ini konsumen motor di Indonesia baru puas kalau motor baru yang dia beli memiliki kubikasi mulai dari 125cc. Menggeser trend kubikasi 110cc-115cc yang masih jadi standar di beberapa motor entry level. Beberapa malah baru lega jika kubikasi mulai dari 150cc dan tertawa lepas ketika kubikasi mentok di 250cc.  Di atas 250cc biasanya konsumen mulai mikir soal pajak dan konsumsi bbm meskipun tetap mengidamkan kubikasi 400cc atau bahkan 1000cc. 

Saya sendiri termasuk konsumen yang mulai belajar naik motor lewat kubikasi 110cc. Cuma karena ini motor 2 Tak katanya powernya sebenarnya setara dengan 220cc di motor 4 Tak. Makanya dulu tidak heran lumayan repot belajarnya. Sedangkan di era 4 Tak saya mulai dari 110cc ke 125cc dan baru sekarang masuk di kelas 150cc. Rasanya maksimal kubikasi yang saya bisa handle akan mentok di 250cc saja. Lewat dari sana rasanya bakal emoh. Kecuali entah bagaimana ada mukjijat yang bisa mengubah lalu lintas Jakarta jadi senyaman era 80-an dan jalan tol boleh dilalui kendaraan roda dua. Bukan apa-apa ketimbang meringis menahan berat dan panasnya motor kubikasi besar di tengah kemacetan, mendingan pakai motor yang kubikasinya pas untuk kemacetan. Tidak kebesaran tapi pas sedang-sedang saja.

Friday, August 9, 2013

Antara Skutik dan Pengendara Wanita

Hari ini ada sebuah tragedi yang menarik perhatian saya yaitu berita kecelakaan pengendara matik di situs detik. Dalam berita yang cukup singkat ini (sepertinya memang taktik detik untuk menarik pengunjung beritanya di buat pendek dan singkat agar menarik pembaca), disebutkan seorang wanita pengendara skutik Yamaha Mio kecelakaan di Jalan Sudirman di depan hotel Le Meredien. Kecelakaan terjadi disinyalir karena pengendara lepas kendali sehingga menabrak trotoar dan akhirnya tewas. Tidak disebutkan secara detail apa penyebab pengendara lepas kendali. Juga tidak disebutkan sebab-sebab lain timbulnya kecelakaan tersebut. Anehnya pada kolom komentar banyak pembaca langsung menyimpulkan kecelakaan terjadi karena pengendaranya wanita. Sebagian lagi ada yang berpendapat karena jenis kendaraannya.  Meski kolom komentar berita di situs detik cukup terkenal dengan komentar-komentarnya 'yang terlalu bebas' menarik untuk disimak bahwa jenis kelamin dianggap sebagai penyebab kecelakaan. Juga sama menariknya ketika penyebab kecelakaan di daulat akibat jenis kendaraannya yaitu skutik.

Jalan Depan Le Meredien

Pada hari ini sebenarnya saya sempat melewati jalan yang sama sekitar pukul 12 siang. Keadaan cukup sepi dan lengang karena merupakan hari ke-2 Idul Fitri. Seperti yang saya sudah sampaikan di beberapa artikel yang ada di portal indomotoblog bahwa justru dalam keadaan sepi seperti sekarang pengendara harus lebih berhati-hati. Sebab selain kita terdorong untuk memacu motor secepat-cepatnya karena kondisi jalan yang lengang, juga karena disekitar kita banyak pengendara yang kurang trampil. Fakta sederhana yang terjadi setiap kali libur panjang. Saya tidak setuju dan tidak yakin jenis kelamin berkaitan dengan kemampuan berkendara karena justru sering menemukan lady biker yang sama trampilnya dengan pengendara pria. Begitu juga sebaliknya banyak lady biker yang sama sembrononya seperti pengendara alay. Jenis kendaraan yang disebut skutik dalam berita juga seharusnya tidak menjadi penyebab kecelakaan (mengandaikan skutik tersebut laik jalan). Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab kecelakaan dan itu merupakan tugas kepolisian lalu lintas untuk mencari penyebabnya. Kita yang hanya membaca tentu hanya bisa menebak-nebak apa sebenarnya yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut. 

Thursday, August 8, 2013

Box, Magic Jar, Top Case, Bagasi......

Awalnya saya termasuk orang yang anti pasang bagasi tambahan di belakang motor. Maklum dari sekian banyak motor CKD yang masuk kemari, apakah dia sports, skutik, bebek, tidak ada yang benar-benar dirancang untuk mendapatkan aksesori bagasi belakang. Hal ini bertahan sampai saya memiliki PCX.  Selain karena membutuhkan ruang tambahan, PCX merupakan produk global CBU yang telah dilengkapi lubang baut untuk bracket di tail grab (behel) nya. Meskipun untuk memasang bracket harus melubangi plastik tutup tail grab (behel). Bracket khusus PCX seharga 450-500 ribu ini terasa kokoh menopang box bagasi, dan didukung oleh  beberapa produsen asesoris bagasi seperti Givi, Kappa dan Shad. Saya sengaja memilih box bagasi yang ukurannya tidak terlalu besar karena saya tidak suka ukuran bagasi yang terlalu lebay. Selain tidak estetis tentu akan mempengaruhi handling motor.
Box Bagasi GIVI E16 Monolock di PCX


Sayangnya ketersedian lubang baut bracket, tidak terjadi pada motor-motor CKD yang umumnya hanya dijual untuk pasar Indonesia atau ASEAN. Selain tidak memiliki lubang baut khusus , bracketnya pun umumnya adalah bracket universal yang tidak presisi dan berharga murah. Salah satu kekurangan bracket universal lokal biasanya adalah daya tahan yang rendah terhadap guncangan sehingga rentan patah dan instalasinya mengharuskan tail grab (behel) yang ada dilepas. Parahnya banyak rider di sini yang memaksa memilih memasang box dengan ukuran oversize yang selain jelek secara estetika juga menganggu handling motor karena ukurannya yang terlalu lebay.

Instalasi Box pada motor CKD lokal




Sunday, August 4, 2013

Seandainya Suzuki dan Yamaha berani...keluarkan skutik Mid Size.

Melihat data bahwa penjualan motor di Indonesia sudah di dominasi Honda (AHM) sebanyak 60% sebenarnya menunjukan kedigdayaan pabrikan Jepang berlogo sayap ini. Hebatnya Honda tidak lagi bermain di segmen yang menjadi julukannya di masa lalu, yaitu sebagai raja bebek, tapi malah menjadi raja skutik. Yamaha yang tadinya memimpin lewat Mio-nya yang cukup merakyat akhirnya dipecundangi Honda lewat terjangan Beat-nya.

Honda PCX 125-150



Sayangnya meski angka penjualan skutik terbilang tinggi, pasar skutik di Indonesia masih dipenuhi oleh model-model skutik dengan bodi kompak (light size). Konon menurut riset pasar yang dilakukan pabrikan, orang sini tidak suka model skutik mid dan maxi size...(gak suka atau gak kuat beli ya karena bandrolnya kelewat tinggi?) Sehingga praktis hanya segelintir pabrikan yang berani memasukan skutik mid dan maxi globalnya.


Yamaha Majesty S / S-Max 155


Seandainya pabrikan agak mau berusaha inovatif tentunya konsumen tanah air sudah di suguhi persaingan skutik level mid-size. Disini Honda tampaknya menjadi satu-satunya pabrikan yang berani main di kelas skutik mid-size. Mungkin Honda berharap PCX-nya bakal fenomenal seperti Kawasaki Ninja di sports fairing. Makanya berani mulai duluan, sayang meski inden panjang, demand-nya dianggap belum memenuhi target Honda. Makanya AHM terlihat masih setengah hati memasarkan PCX.


Suzuki Skywave / Burgman 200 SS


Mungkin karena itu PCX Honda tidak di ikuti oleh dua pabrikan Jepang lain Yamaha dan Suzuki. Malah pabrikan non-Jepang seperti SYM, Benelli dan Viar berani masuk sedikit-sedikit.  Padahal kalau saja berani Yamaha tentu bisa merilis S-Max-nya disini dan Suzuki tinggal membopong Skywave 150/200 kemari. Pasar skutik mid-size mulai semarak dan kita gak bosen cuma disuguhi skutik lightsize selap-selip di jalanan.

SYM Joyride 200i




Friday, May 17, 2013

Yamaha S-Max 160, Mid Size Scooter Pesaing Honda PCX?

Tanggal 16 Mei lalu setelah sebelumnya nonggol di Osaka Motorcycle Show akhirnya varian terendah skuter Yamaha di lini Majesty, Yamaha S-Max 160 di luncurkan di Taiwan. Skutik yang sebelumnya dilabeli Majesty S 155, Akhirnya dilabeli S-Max untuk pasar Taiwan, melengkapi lini skutik kelas Max yang sebelumnya telah ada yaitu X-Max dan T-Max. Penamaan ini mirip seperti yang dilakukan oleh Skutik Suzuki yang menggunakan nama Skywave untuk pasar Asia dan Burgman untuk pasar Amerika. 

Sewaktu namanya masih Majesty S



Secara penampilan dan spesifikasi S-Max 160 akan bersaing ketat dengan Honda PCX 150 yang telah lebih dulu mendominasi pasar skutik mid size global. Jika YIMM pada akhirnya berani membawa S-Max ke Indonesia maka dia akan bersaing dengan Honda PCX 150 yang di impor secara CBU oleh AHM dari Thailand dan SYM Joyride 200 yang diimpor oleh SKN secara SKD dari Vietnam. 



Setelah dilabeli S-Max 160


Skutik yang meski dilabeli angka 160 ini sebenarnya hanya memiliki kubikasi 155cc. Pembulatan cc memang lazim terjadi di kendaraan bermotor khususnya skutik. Seperti halnya yang dilakukan SYM di Joyride yang menggunakan embel-embel angka 200 meski kubikasi skutiknya hanya 170cc. 


Spesifikasi dan detail S-Max



Terdapat sejumlah faktor plus dan minus dari skutik Yamaha yang masuk di level premium ini jika dibandingkan dengan PCX. Kita mulai dari faktor minusnya dulu yaitu ban-nya yang berukuran 13. Oleh Yamaha ban depan dan belakang skutik ini masing-masing diberi ban gambot ukuran 120/70 -13 depan dan 130/70-13 belakang meski terlihat kekar dipastikan akan sulit mencari ban ukuran ini di Indonesia. Faktor lainnya adalah posisi duduk pengendara yang tidak kurang dapat selonjor meski dek terbilang luas begitu pun posisi duduk pembonceng yang tergolong tinggi karena jok yang menganut sistem bertingkat. Ground Clearance S-Max juga terlihat cukup rendah (sekitar 11-12 cm) meski menambah kestabilan karena center gravity relatif dekat dengan tanah di perkirakan akan menemui masalah apabila digunakan di jalanan ibu kota yang memiliki speed bump kelewat tinggi. Lampu depan  S-Max standar tipe H-4 yang menggunakan model single meski dibantu lampu senja kiri kanan tipe LED dari tayangan TVC-nya masih terlihat sedikit kurang terang. Bagasinya yang memiliki kapasitas 32 L juga sedikit disayangkan hanya dapat memuat sebuah helm full face karena termakan oleh ruang untuk mono shock dan posisi jok pengendara yg berbentuk seat-in. Faktor minus lainnya adalah bentuk buritan belakang yang terlihat kosong dan rentan patah karena memiliki lekuk rumah lampu plat nomor yang terlalu menonjol. Tentu saja faktor minus krusial yang tidak ditemukan di S-Max adalah teknologi ISS yang menjadi paten Honda. 


Mending S-Max atau X-Ride? :-) 


Faktor plus S-Max sendiri cukup banyak dibandingkan PCX. Mulai dari dek rata yg lebih luas, ban yang lebih kekar, rem dobel cakram depan belakang, mesin 155cc 4 Valve SOHC yang diklaim hanya mengkonsumsi 1 L per 47km, lampu rem dan lampu senja LED, serta indikator yg lebih lengkap (tacho, volt, clock, oil) serta mode hazard lamp. Sayang indikator bensin masih bertipe analog. Tangki bensin eksternal dengan kapasitas 7,4 L, laci model terbuka, shooping  hook, underseat storage lebih luas (32L vs 25L), dan tentunya jangan dilupakan suspensi belakang model monoshock rebah. S-Max yang tersedia di Taiwan dalam 5 pilihan warna (hitam, putih, merah, biru dan abu) ini ditawarkan dengan harga NTD 91800 atau sekitar 30 juta rupiah (diperkirakan akan diatas atau sama dengan harga jual PCX di Indonesia jika dijual oleh YIMM). 

Foto-foto dan spek teknis dari Jorsindo.com

Friday, March 22, 2013

Fitur PBL bergunakah?

Di tengah gegap gempitanya pasar matik di Indonesia (sebenarnya sudah kurang wong pemainnya mungkin tidak sampai habis sepuluh jari....) produsen seolah-olah berlomba memanjakan konsumen dengan fitur berlimpah. Mulai dari SSS (Side Stand Switch) untuk mencegah matik nyelonong kalau standar samping lupa dinaikkan, sampai ke gede-gede-an bagasi di bawah jok yang biasanya diukur dalam volume liter. Ada satu fitur yang akhir-akhir ini juga jadi bahan gaco-an 2 pemain besar matik yaitu fitur PBL (Parking Brake Lock), konon fitur ini berguna sebagai pengaman agar matik gak nyelonong kala di parkir di tempat tidak rata. Sebab matik yang menganut sistem CVT tidak bisa diaktifkan gear-nya untuk mengunci penggerak seperti pada motor sports.

Begitu hebatnya fitur PBL ini digadang-gadang sehingga kala satu pabrikan pada akhirnya mengikuti pabrikan lain untuk mengadopsi fitur PBL, langsung di cap plagiat. Sementara pabrikan yang mengekor tak mau kalah berkelit bahwa fitur PBL-nya lebih smart. :-D Tapi jujur tolong di jawab memangnya seberapa sering sih kita parkir di tempat tidak rata? Penulis sendiri jarang menemukan parkiran motor yang tidak rata. Malah selama menggunakan motor hanya sekitar 2 kali penulis harus parkir di tempat yang tidak rata, dan kebetulan keduanya parkiran di bank. Heran ya kok bank-bank itu pelit sekali menyediakan parkiran motor yang enak untuk nasabahnya, tapi itu mah urusan lain lah. Balik ke pertanyaan tadi seberapa penting sebenarnya fitur ini?

Skywave/Hayate sebagai matik pertama yang penulis miliki, tidak ada fitur PBL-nya. Padahal dalam hal dimensi matic di Indonesia, Skywave/Hayate termasuk matik yang cukup bongsor dan berat. Sehingga harusnya kalau alasan keamanan jadi hal utama, fitur PBL lebih sesuai diadopsi di skywave/hayate ketimbang matik lain yang bobotnya lebih ringan dan kompak ukurannya. Suzuki sebagai produsen bukannya tidak punya fitur ini, karena pada maxiscooternya Skywave/Burgman 250cc ke atas fitur ini tersedia. Biasanya jika penulis harus parkir di tempat yang agak miring menggunakan skywave, penulis akan menggunakan standar tengah. Malahan standar samping sebenarnya jarang sekali penulis gunakan. Bukan apa-apa selain menyebabkan mesin tidak mau di start dalam pengalaman penulis parkir menggunakan standar samping selain lebih boros tempat juga bahaya karena rawan tersenggol dan rubuh.

Pada matik baru penulis PCX 150 fitur PBL juga tidak ada. Padahal PCX termasuk kasta tertinggi matik di Indonesia (belinya harus pake inden yang lama dan marah-marah dulu lho....) dan bodynya jelas bongsor. Uniknya fitur PBL ada pada PCX yang dijual di USA. Sebab berbeda dengan PCX yang dijual secara global di the rest of the world, PCX USA edition tidak punya fitur ISS. Maka sebagai gantinya dikompensasi dengan fitur PBL. Cuma penulis liat bukannya gembira para pemilik PCX USA edition malah tidak ceria. Begini komentar mereka di salah satu forum pemilik PCX:

"speaking of parking, does anyone use the "parking knobby thing?" Keep forgetting it's there"

" I'm perfectly happy to give that up for the idle stop feature plus indicators inside the fairings not sticking out on little stalks lol"

"I use it all the time, it is a parking brake. Pull the left brake hard, keep it held down, pull the knob out until it clicks, let go of the lever. Brake is engaged. To disengage, pull the left brake hard, click the middle button on the knob while pushing until the knob pops back down. Pump the brakes, you should hear a twang, and your brakes will release."

" Had a heck of a time getting it released yesterday on mine, you really have squeeze that left break if you set it tight. "

"The first time I rode, I couldn't get it off after stopping for gas. I had to loosen the rear brake drum with a wrench to get it loose enough for me to squeeze it loose!"

Ini fitur PBL pada PCX USA Edition yang di maksud:





Keliatannya kalau lihat komentarnya, selain banyak yang tidak tahu cara pakainya, proses me-lock dan unlock-nya yang ngerepotin bikin jadi bete. Padahal fitur ini mirip seperti yang dipakai di Honda Wave AT. Jadi handle rem mesti di tarik juga sekalian menarik knob, untuk unlock juga seperti itu hanya knob-nya diputar dan ditekan. :-D Di Indonesia sendiri beberapa pemilik PCX memilih mengadopsi PBL dari Vario atau Beat di PCX-nya. Jadi seberapa penting sih PBL? Bener diadopsi buat fitur keamanan atau sekadar pengen keliatan canggih ya?

Lucunya kalau penulis melihat console dalam PCX USA Edition ini penulis bukan kepengen PBL-nya tapi malah kepengen console-nya. Lubang ex PBL bisa dipasangi Shopping Hook alias cantelan belanja yang pas. Sementara lubang tempat sein bisa tetap dipasangi sein atau malah untuk slider protector supaya body motor gak hancur kalau rubuh. :-)




Thursday, March 21, 2013

Honda Vario ISS = PCX?




Setelah ditunggu-tunggu akhirnya AHM meluncurkan varian Vario 125 ISS-nya rabu kemarin. Matik yang sudah lebih dulu diluncurkan di Thailand dengan nama Click 125i Idling Stop ini, sontak digadang-gadang oleh sebagian blogger sebagai PCX versi pahe. Tapi benarkah Vario ISS adalah versi pahenya PCX? Sepintas kalau dilihat memang sebagian fitur PCX ada di Vario baru ini. Mulai dari rem-nya yang sudah CBS (walaupun masih model kabel bukan minyak seperti PCX), staternya yang ACG sehingga waktu start sudah kehilangan fitur khasnya yang berbunyi 'bletak', sampai ke Idle Stop System (ISS) yang mematikan mesin apabila idle kurang lebih 3 detik saat motor telah dijalankan. Mesin Vario yang sama-sama mengadopsi desain Enhanced Smart Power (ESP) memang menambah kemiripan karena hampir 80%-nya sama dengan yang dipakai PCX 150.

Tanpa bermaksud mengecewakan pengguna vario rasanya kemiripan Vario dengan PCX berhenti sampai disana. Dari mulai desain body, storage, dashboard, ergonomi, suspensi dan kualitas keseluruhan tentulah beda dengan PCX yang merupakan produk global Honda dan dijual seantero dunia. Jika pemilik Vario ingin mencari kemiripan dengan matik Honda lainnya rasanya lebih tepat kalau Vario dibandingnkan dengan Honda SH. Honda SH yang tersedia versi 125 dan 150 dan ironisnya diluncurkan di Vietnam jauh lebih mirip Vario daripada PCX apabila dibandingkan. Mulai dari desain deknya yang rata, tangki bensin di bawah seat, sampai fitur ISS yang sekarang juga ikut dipakai.



Perbedaannya ada di shock belakang yang stereo dan lingkar ban yang 16. Sementara Vario masih menganut shock belakang mono pinggir dan lingkar ban 14. 

Mestinya kalau mau mencari PCX versi pahe bisa diarahkan ke Honda Airblade yang secara desain lebih punya kemiripan dengan PCX karena sama-sama mempunyai tangki eksternal, dual shock, dan bertulang tengah. Sayang AHM tidak  belum ada rencana memasukan Airblade ke Indonesia.


Wednesday, March 20, 2013

You can't buy happiness but you can buy PCX and that's pretty close




It's been a while (well actually very long time) since I create any post in my blog. I'm very busy flexing my muscle between study for my post-graduate, lecturing, and many things that I need to do. Now I'm back and hopefully can create more post in my blog as it should be.

Thing is I'm quite happy that finally been able to get a new scooter, a PCX 150. I've been eyeing this scooter since it's first appearance back in 2009. But back then PCX only have 125 cc displacement and I just got my new Skywave for a few month.  Now three years later and with 25cc more I can justify the purchase. I don't want to reviewing the PCX 150 too much, there are hundred or thousand pages that already talk about PCX from it's technicality. I want talk about PCX from the user side, why I choose PCX instead other scooter and why I'm happy with it.

First of all I need second personal transportation. Due to the new rules proposed by the governor to impose vehicle traffic limitation based on odd and even license plate number. Since I don't want to purchase another light compact scooter, I may as well choose 'bigger' scooter such as PCX. Other 'big' scooter that was on my consideration include Joyride by SYM and even LX and Liberty by Piaggio.

Secondly this 'bigger' scooter should fun and comfortable enough to ride and have distinct look. PCX surely fall into that category. Thirdly have rather large under seat storage that can accomodate helmet and few other things nicely. Other criteria including the size that even tough big, the scooter should still easily enough fit the heavy traffic and narrow alley without hassle. Also the scooter must have enough power and consume fuel with good economical ratio. All that criteria can be match by PCX and thus make me quite happy.

There are other cons about PCX (of course there's no such thing as perfect scooter) but the cons either can be handled easily through additional accessories (i.e storage, hook, rear shock, tire, etc) or not bother me at all (i.e clock, flat deck, back support, etc). So when my license plate finally arrive I will ride around with my PCX as much as I could and you will hear more about it from me.  

Wednesday, March 19, 2008

Bebek Laki: Genre baru motor Indonesia

Tahun 2008 ini sepertinya diawali oleh sejumlah rencana yang berbau spekulasi oleh produsen motor Jepang di Indonesia, yaitu rencana melahirkan motor bebek Laki. Motor Bebek Laki? Apaan tuh...? Sejujurnya sih itu istilah saya saja, melihat fenomena trend di kalangan produsen motor yang mengeluarkan jenis motor nanggung. Tadinya kan jenis motor yang dipasarkan di Indonesia agak jelas yaitu bisa di bagi tiga:

1. Motor Laki/Sports: Jenis mesin tegak, pake kopling, Tangki bensin diluar (tidak di bawah jok) bentuk besar, 1/2 telanjang (bila tanpa cover), dst.


2. Motor Unisex/Bebek: Jenis mesin tidur, non kopling (transmisi rotari), tangki bensin dalam ( di bawah jok), bentuk medium, bercover, dst.

3. Motor Skuter/Matik: Jenis mesin terintegrasi (dengan ban belakang), full matic, tangki bensin dalam, bentuk small, full cover, dst.

----to be continued---

Wednesday, December 13, 2006

Bebek VS Skuter

Di penghujung tahun 2006 ini ada satu obsesi saya yang belum kesampaian yaitu ganti tunggangan. Tunggangan saya saat ini adalah kuda besi yang disebut orang sebagai motor bebek atau bahasa kerennya: underbone. Semenjak krisis bbm mendera Indonesia, saya dan jutaan orang lainnya memang memilih kuda besi roda dua sebagai alat transportasi sehari-hari. Tidak ada yang aneh karena selain cepat, biaya operasionalnya pun murah meriah. Bayangkan hanya bermodal Rp 15.000 saya sudah bisa kerja 4 hari dalam seminggu tanpa keluar ongkos transportasi lagi. Bandingkan dengan naik kendaraan umum, yang sudah lambat, tak nyaman, tak aman plus sejak ongkosnya naik jadi tambah mahal. Untuk naik bajaj yang jaraknya dekat saja sekali naik saya harus keluar Rp 10.000, padahal dalam satu hari minimal harus naik dua kali. Pun ketika saya coba naik transjakarta yang sekali jalan meminta ongkos Rp 3.500 dikali dua maka sehari saya sudah keluar biaya Rp 7.000, jika di kali empat hari maka biayanya sudah Rp 28.000. Tak heran dominasi motor di jalan raya sudah sampai taraf berlebihan, tetapi selama kewajiban pemerintah menyiapkan sistem transportasi masal belum juga terwujud, motor memang jadi satu-satunya transportasi alternatif masyarakat yang irit ongkos.

Karena itu tak heran persaingan industri otomotif roda dua makin hari kian marak. Semua produsen berlomba-lomba menawarkan tipe motor yang makin tersegmentasi. Jika dilihat segmentasi motor secara umum dibagi menjadi tiga tipe yaitu:
  • Motor Sport,
  • Motor Bebek, dan
  • Skuter Otomatis.
Motor Sport atau sering disebut motor laki (walau tak harus lelaki yang menungganginya) sebagai perintis tipe motor klasik, baru belakangan ini bergairah lagi. Selain identik dengan konsumsi yang lebih boros di banding bebek, jalanan yang makin macet dan harga jual yang lebih tinggi, memang cukup mengurangi populasinya. Walau demikian jauh di lubuk hati tiap penunggang motor sebenarnya motor idaman, ya tetap tipe sport ini. Apalagi di film-film action yang ada adegan naik motornya umumnya jagoan digambarkan naik motor tipe sport. Maka buat lelaki yang ingin menunjukkan ke-machoannya memang lebih afdol kalo menyemplak motor-nya lelaki (gak ada hubungannya sama mega pro lho). Tak heran motor-motor kekar macam Tiger dan Thunder walau lebih mahal dan rada kurang praktis di jalan ibukota yang makin macet, tetap banyak peminatnya.

Buat penunggang motor yang lebih memikirkan segi kepraktisan dan keiritan-selain budget yang agak tiris-pilihan di arahkan ke motor bebek. Selain cukup kompak dan biaya operasionalnya kecil, populasi yang besar menyiratkan mudahnya merawat bebek.
Paling tidak kalau bengkel resmi ogah disambangi masih ada bengkel umum yang pasti bisa menservis sembarang bebek. Maklum teknologi bebek kelas menengah bawah biasanya setali tiga uang antar merek. Meski demikian buat penggemar bebek yang hobi ngebut dan butuh power lebih besar ada bebek yang disebut ayam jago alias bebek sport yang teknologi dan powernya cukup untuk memasok adrenalin. Rasanya masih agak sulit menggeser popularitas bebek, selain karena image irit ketangguhannya di medan jalan Indonesia yang beragam memang cukup teruji.



Skuter otomatis sebenarnya bukan barang baru (walau ada produsen yang ngotot untuk itu), sejak jaman babe-babe dulu skuter bermerk vespa sudah dikenal walau sekarang produsennya bagaikan kerakap di atas batu dalam hal pemasaran. Rasanya budaya retro anak muda lewat klub skuternya-lah yang mempopulerkan dan mengedukasi masyarakat bahwa naik skuter itu keren juga. Apalagi sekarang skuter baru semua sudah otomatis jadi tambah praktis, soal harga pun (untuk entry level) cukup bersahabat tidak jauh beda dengan bebek. Jadilah popularitasnya merambat naik bahkan diprediksi bisa menggeser motor bebek. Faktor kenyamanan skuter pun rata-rata melebihi bebek yang kadang kurang memperhatikan kebutuhan penunggangnya.



Semua produsen motor rata-rata memiliki jenis motor yang disasar untuk ketiga kelas tersebut. Ketatnya persaingan memicu peluncuran produk yang siklusnya lumayan cepat kalau tahun 90-an dulu siklus motor bisa 4-5 tahun sekali (walau sekadar face lift) kini dalam kurun dua tahun bisa jadi muncul jenis baru yang lebih dari sekadar face lift. Akibatnya calon pembeli seringkali bingung antara beli sekarang atau tunggu nanti sampai yang baru keluar.

Saya sebagai penunggang bebek harian dua tahun belakangan ini, setiap kali pameran motor ikut-ikutan terguncang oleh persaingan produsen kendaraan roda dua. Bayangkan untuk jenis motor bebek yang saya pakai baru dua tahun sudah keluar variannya sebanyak dua kali. Walau demikian saya tidak sampai kepincut untuk melego bebek yang saya pakai sekarang dengan bebek varian baru. Hati saya justru sedang tertawan dengan skuter. Faktor kenyamanan dan kebutuhanlah yang membuat saya tertarik pada skuter. Sebagai suami saya sekarang punya tugas baru menemani istri belanja di swalayan, celakanya bebek tak cukup punya bagasi memadai. Pernah sih terlintas di pikiran untuk menggunakan bagasi tambahan ala anak turing di bagian buritan, tapi setelah liat ukurannya kok kesannya jadi kayak motor tukang delivery. Sampai saya lihat ada beberapa skuter yang memiliki bagasi ekstra luas. Skuter itu bernama Kymco.


Sebagian besar produk Kymco adalah skuter, dulu sewaktu membeli si bebek, saya dan istri sempat mencoba-coba produknya di PRJ. Sayang karena berbagai pertimbangan: dari roda yang cuma 10, sampai bengkel yang jarang akhirnya mengurungkan niat saya untuk menebusnya. Ada juga skuter lain yang bengkelnya banyak tapi sayang ukurannya kelewat kecil, joknya untuk saya sendiri sudah habis terpakai, gimana boncengin istri? Kymco memang cukup agresif dalam menawarkan skuter malah belum lama meluncurkan varian Free LX yang konon hasil riset lokal. Hebat, saat produsen bebek biasanya cuma berani meluncurkan produk yang sudah sukses di negeri tetangga, ini produsen skuter malah berani bikin produk khusus lokal.



LX sendiri sebenarnya lumayan mendapat resensi yang bagus, sehingga kalau sekarang saya sedang mencari skuter pilihannya pasti jatuh ke LX. Amat disayangkan niat itu agak tertahan lantaran ketersediaan bengkel resmi dan suku cadang masih jadi kendala. Buat saya kehandalan alat transportasi vital fungsinya karena sejak terbiasa naik motor saya jadi tak kuat lagi naik kendaraan umum. Tentu bisa berabe kalau tunganggan saya harus di kandangkan lebih dari sehari di bengkel gara-gara suku cadangnya inden. Setelah di pikir-pikir rasanya obsesi untuk ganti tunggangan harus tertunda lebih lama, apalagi setelah dilihat-lihat si bebek masih harus dipertahankan sebagai kendaraan cadangan. Kalo gitu ngapain cuma ngincer kelas LX kenapa gak sekalian aja milih flagshipnya Kymco Grand Dink atau Xciting toh tidak tiap hari ini di pakai tunggangan? Jadi untuk sementara saya cuma bisa membayangkan enaknya naik skuter Kymco sambil melihat-lihat gambar-gambar skuter Kymco yang beredar di Spanyol. Maaf gambar Kymco Indonesia kurang dramatis sih.
Foto: Courtesy of Kymco Spain